Jakarta, 3 September 2026 – Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham membahas berbagai peluang kerja sama antara Pemerintah Kota Makassar dan Jepang dalam pertemuan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkot Makassar memperluas hubungan internasional sekaligus membuka peluang kolaborasi yang dapat mendukung pembangunan daerah. Sejumlah sektor potensial menjadi perhatian, mulai dari investasi, perdagangan, pendidikan, pengembangan sumber daya manusia hingga penerapan teknologi. Jepang dinilai memiliki pengalaman dan kemampuan yang dapat menjadi referensi bagi Makassar dalam meningkatkan kualitas pembangunan perkotaan. Pada saat yang sama, Makassar menawarkan posisi strategis sebagai salah satu pusat ekonomi dan perdagangan terbesar di kawasan Indonesia timur. Pertemuan di Tokyo diharapkan menjadi pintu awal untuk mempertemukan kebutuhan pembangunan Makassar dengan peluang kemitraan dari berbagai pihak di Jepang.
Pembahasan dilakukan dengan mempertimbangkan hubungan Indonesia dan Jepang yang telah berkembang dalam berbagai bidang selama puluhan tahun. Kerja sama yang sebelumnya banyak berlangsung pada tingkat pemerintah pusat dinilai masih memiliki ruang untuk diperluas melalui hubungan langsung antardaerah. Makassar dapat memanfaatkan pendekatan tersebut untuk memperkenalkan potensi kota kepada pemerintah daerah, lembaga pendidikan, komunitas bisnis, serta calon investor Jepang. KBRI Tokyo memiliki posisi penting dalam membantu menjembatani komunikasi dengan berbagai pihak yang memiliki minat bekerja sama dengan daerah di Indonesia. Dukungan diplomatik juga dapat membantu pemerintah kota memahami prosedur dan karakter kerja sama yang berlaku di Jepang. Dengan demikian, penjajakan tidak berhenti pada pertemuan formal, tetapi dapat diarahkan menuju program yang lebih konkret.
Investasi menjadi salah satu sektor yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Makassar memiliki peran sebagai pusat distribusi barang dan jasa menuju berbagai wilayah di Sulawesi serta kawasan Indonesia timur. Infrastruktur transportasi berupa pelabuhan dan bandara membuat kota tersebut memiliki konektivitas yang mendukung aktivitas perdagangan. Potensi itu dapat ditawarkan kepada perusahaan Jepang yang ingin memperluas pasar maupun membangun jaringan usaha di luar Pulau Jawa. Bidang industri, logistik, teknologi, pengolahan pangan, energi, dan infrastruktur perkotaan dapat menjadi beberapa sektor yang dijajaki. Pemerintah kota perlu memastikan investasi yang masuk dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat setempat.
Pengembangan sumber daya manusia turut menjadi bagian penting dari pembicaraan karena Jepang membutuhkan tenaga kerja pada sejumlah sektor. Makassar memiliki jumlah penduduk usia produktif yang besar sehingga program peningkatan keterampilan dapat membuka peluang bagi generasi muda untuk mendapatkan pengalaman internasional. Namun, penempatan tenaga kerja membutuhkan kesiapan kemampuan teknis, penguasaan bahasa Jepang, pemahaman budaya kerja, serta perlindungan ketenagakerjaan yang memadai. Pelatihan sebelum keberangkatan menjadi penting agar pekerja dapat beradaptasi dan memahami hak maupun kewajibannya. Kerja sama dengan lembaga pendidikan dan perusahaan Jepang dapat membantu menyelaraskan kompetensi peserta dengan kebutuhan industri. Pengalaman yang diperoleh kemudian diharapkan dapat memberikan manfaat ketika mereka kembali dan berkontribusi terhadap pembangunan daerah.
Sektor pendidikan juga menawarkan ruang kolaborasi yang cukup luas. Perguruan tinggi dan sekolah di Makassar dapat membangun kemitraan dengan institusi pendidikan Jepang melalui pertukaran mahasiswa, pelatihan tenaga pengajar, penelitian bersama, maupun program beasiswa. Bidang teknologi, kesehatan, kelautan, perikanan, lingkungan, serta perencanaan perkotaan memiliki relevansi kuat dengan kebutuhan Makassar. Kota tersebut memiliki karakter sebagai kawasan pesisir sehingga penelitian mengenai perubahan iklim dan pengelolaan lingkungan laut dapat menjadi salah satu fokus. Transfer pengetahuan melalui kerja sama akademik dapat membantu pemerintah memperoleh pendekatan baru dalam menyelesaikan berbagai persoalan perkotaan. Kolaborasi pendidikan juga dapat memperkuat hubungan masyarakat kedua negara dalam jangka panjang.
Pengelolaan kota menjadi bidang lain yang dapat dipelajari dari pengalaman Jepang. Berbagai kota di negara tersebut dikenal memiliki sistem transportasi publik, pengelolaan sampah, mitigasi bencana, serta pelayanan masyarakat yang memanfaatkan teknologi secara luas. Makassar menghadapi tantangan khas kota besar seperti kemacetan, pertumbuhan kawasan permukiman, pengelolaan limbah, banjir, dan kebutuhan meningkatkan kualitas pelayanan publik. Tidak seluruh sistem dari Jepang dapat diterapkan secara langsung karena kondisi sosial dan ekonomi kedua wilayah berbeda. Namun, teknologi dan metode pengelolaannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan lokal. Kerja sama yang tepat dapat mempercepat transformasi pelayanan tanpa harus membangun seluruh sistem dari awal.
Mitigasi bencana juga menjadi bidang yang relevan mengingat Indonesia dan Jepang sama-sama berada di kawasan dengan risiko gempa bumi dan bencana alam lainnya. Jepang memiliki pengalaman panjang dalam mengembangkan standar bangunan, sistem peringatan, pendidikan kebencanaan, serta kesiapsiagaan masyarakat. Pengetahuan tersebut dapat menjadi referensi bagi Makassar dan wilayah sekitarnya dalam meningkatkan kemampuan menghadapi situasi darurat. Program pertukaran pengetahuan dapat melibatkan pemerintah, akademisi, tenaga teknis, hingga komunitas masyarakat. Simulasi dan pendidikan kebencanaan sejak usia sekolah juga dapat menjadi bagian dari kolaborasi. Pendekatan tersebut membantu membangun ketahanan kota tidak hanya melalui infrastruktur, tetapi juga melalui kesiapan penduduk.
Potensi kerja sama perdagangan dan promosi produk lokal turut terbuka melalui hubungan dengan Jepang. Makassar dapat memperkenalkan produk unggulan Sulawesi Selatan seperti hasil laut, produk pertanian, makanan olahan, kerajinan, serta komoditas lainnya kepada pasar Jepang. Namun, standar kualitas dan keamanan produk di Jepang relatif ketat sehingga pelaku usaha membutuhkan pendampingan untuk memenuhi persyaratan yang berlaku. Pengemasan, konsistensi kualitas, sertifikasi, dan keberlanjutan pasokan menjadi faktor penting apabila ingin memasuki pasar tersebut. Pemerintah kota dapat membantu mempertemukan UMKM dengan calon mitra sekaligus menyediakan program peningkatan kapasitas. Jika berhasil, kerja sama internasional dapat memberikan manfaat langsung kepada pelaku usaha lokal dan tidak hanya terbatas pada perusahaan berskala besar.
Pariwisata juga berpotensi mendapatkan manfaat dari hubungan yang semakin erat. Makassar merupakan salah satu pintu masuk menuju berbagai destinasi di Sulawesi Selatan dan kawasan timur Indonesia. Wisata sejarah, kuliner, bahari, serta budaya dapat diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat Jepang melalui kegiatan promosi yang terarah. Sebaliknya, pengalaman Jepang dalam mengelola destinasi dan pelayanan wisata dapat menjadi referensi untuk meningkatkan kualitas industri pariwisata lokal. Konektivitas penerbangan dan kemudahan akses informasi menjadi faktor penting dalam mendorong peningkatan jumlah wisatawan. Promosi yang dilakukan bersama pelaku industri dapat memperluas jangkauan sekaligus memperkuat citra Makassar sebagai destinasi dan pusat perjalanan di Indonesia timur.
Pertemuan Wakil Wali Kota Makassar di KBRI Tokyo pada akhirnya menjadi langkah awal untuk membangun kerja sama yang lebih terstruktur dengan berbagai pihak di Jepang. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan berbagai peluang yang dibahas menjadi program dengan target, mitra, dan manfaat yang jelas. Investasi, pendidikan, pengembangan SDM, teknologi, perdagangan, mitigasi bencana, dan pariwisata memiliki potensi untuk dikembangkan secara bertahap. Pemkot Makassar diharapkan melakukan tindak lanjut agar komunikasi yang telah dibangun menghasilkan kesepakatan maupun proyek nyata. KBRI Tokyo dapat menjadi penghubung penting dalam menemukan mitra yang sesuai dengan kebutuhan daerah. Melalui kolaborasi tersebut, Makassar berupaya memperkuat posisinya sebagai kota yang terbuka terhadap kerja sama global sekaligus tetap memastikan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.





