New York, 17 September 2026 – Dua mantan insinyur Robinhood Crypto menghadapi dakwaan federal di Amerika Serikat setelah diduga memanfaatkan informasi rahasia perusahaan mengenai rencana pencatatan aset kripto untuk melakukan transaksi derivatif sebelum informasi tersebut diumumkan kepada publik. Kedua terdakwa adalah Hefu Chai dan Huaisong “Jerry” Xiang yang sebelumnya bekerja sebagai software engineer di perusahaan tersebut. Jaksa federal Distrik Selatan New York mendakwa keduanya atas dugaan penipuan komoditas dan wire fraud. Mereka dituduh mengakses informasi nonpublik mengenai token yang akan segera tersedia di Robinhood Crypto, kemudian menggunakan informasi tersebut untuk mengambil posisi di pasar perpetual futures. Transaksi dilakukan melalui Hyperliquid, platform derivatif terdesentralisasi yang tidak dioperasikan Robinhood. Jaksa menyebut masing-masing terdakwa memperoleh keuntungan lebih dari 50.000 dolar AS dari rangkaian transaksi yang dipersoalkan.
Kasus tersebut berawal dari akses yang dimiliki Chai dan Xiang sebagai bagian dari pekerjaan mereka di Robinhood. Posisi sebagai insinyur memungkinkan keduanya mengakses sejumlah informasi internal yang belum diketahui masyarakat. Jaksa menduga informasi mengenai rencana pencatatan token diperoleh antara lain melalui komunikasi internal perusahaan, termasuk email dan kanal Slack. Informasi tersebut mempunyai nilai karena pengumuman pencatatan sebuah aset kripto pada platform perdagangan besar dapat memengaruhi minat pasar terhadap token bersangkutan. Para terdakwa diduga mengetahui rencana tersebut sebelum pengumuman resmi dilakukan. Pengetahuan itu kemudian disebut digunakan untuk melakukan transaksi yang berpotensi mendapatkan keuntungan dari pergerakan harga setelah informasi menjadi publik.
Menurut tuduhan jaksa, skema tersebut dilakukan dengan membeli kontrak perpetual futures yang terkait dengan token tertentu sebelum Robinhood mengumumkan pencatatannya. Perpetual futures merupakan instrumen derivatif yang memungkinkan pelaku pasar mengambil posisi terhadap pergerakan harga suatu aset tanpa tanggal kedaluwarsa seperti kontrak futures tradisional. Setelah Robinhood mengumumkan dukungan perdagangan terhadap token bersangkutan, harga dapat bergerak akibat meningkatnya perhatian pasar. Chai dan Xiang kemudian diduga menutup posisi perdagangan mereka setelah pergerakan tersebut terjadi. Jaksa memandang pola transaksi itu sebagai penggunaan informasi rahasia perusahaan untuk memperoleh keuntungan pribadi. Dugaan aktivitas tersebut disebut berlangsung dalam periode 2025 hingga 2026.
Pemilihan Hyperliquid menjadi salah satu aspek penting dalam konstruksi perkara. Transaksi yang dipersoalkan tidak dilakukan langsung melalui Robinhood, melainkan melalui pasar derivatif terdesentralisasi yang terpisah dari perusahaan tempat kedua terdakwa bekerja. Dengan demikian, informasi yang diperoleh dari satu perusahaan diduga dimanfaatkan untuk mengambil posisi pada instrumen yang diperdagangkan di platform berbeda. Kondisi tersebut memperlihatkan kompleksitas penegakan hukum pada ekosistem aset digital yang semakin terhubung. Informasi mengenai pencatatan token pada sebuah platform dapat memberikan dampak harga pada berbagai pasar lainnya. Jaksa menilai penggunaan tempat perdagangan berbeda tidak menghilangkan persoalan mengenai dugaan penyalahgunaan informasi rahasia.
Chai dan Xiang masing-masing menghadapi satu dakwaan penipuan komoditas dan satu dakwaan wire fraud. Tuduhan penipuan komoditas membawa ancaman maksimum 10 tahun penjara berdasarkan ketentuan yang digunakan jaksa, sedangkan wire fraud dapat membawa ancaman maksimum 20 tahun. Dengan demikian, ancaman maksimum berdasarkan dakwaan dapat mencapai 30 tahun apabila hukuman dijatuhkan secara maksimum dan berurutan, meskipun vonis aktual nantinya ditentukan pengadilan berdasarkan proses hukum dan pedoman pemidanaan yang berlaku. Kedua terdakwa tetap mempunyai hak untuk membantah seluruh tuduhan yang diajukan pemerintah. Dakwaan bukan merupakan putusan bersalah dan seluruh tuduhan harus dibuktikan di pengadilan.
Jaksa AS untuk Distrik Selatan New York Jamie McDonald menegaskan bahwa penyalahgunaan informasi rahasia untuk memperoleh keuntungan dari perdagangan derivatif merupakan tindakan yang dapat diproses secara hukum. Pemerintah menilai informasi internal mengenai rencana pencatatan aset mempunyai karakter penting karena belum tersedia bagi pelaku pasar lainnya. Persoalan utama dalam kasus tersebut bukan sekadar keuntungan yang diperoleh setelah harga token bergerak. Penyelidikan berfokus pada dugaan bahwa posisi perdagangan dibuat berdasarkan informasi perusahaan yang tidak tersedia secara publik. Bukti mengenai kapan informasi diperoleh, kapan transaksi dilakukan, serta kapan pengumuman diterbitkan akan menjadi bagian penting dalam perkara.
Masing-masing terdakwa disebut mendapatkan keuntungan lebih dari 50.000 dolar AS. Nilai tersebut menunjukkan bahwa transaksi yang dipersoalkan bukan hanya percobaan kecil tanpa hasil finansial. Jaksa akan berusaha menunjukkan hubungan antara waktu transaksi dengan informasi mengenai rencana pencatatan token. Pola pembelian sebelum pengumuman dan penutupan posisi setelah informasi menjadi publik dapat menjadi bagian dari bukti yang diajukan. Namun, pembela tetap mempunyai kesempatan mempertanyakan bagaimana informasi diperoleh, apakah informasi tersebut benar-benar material dan rahasia, serta bagaimana transaksi dilakukan. Seluruh persoalan tersebut akan diuji melalui proses hukum.
Robinhood menyatakan tidak menoleransi praktik insider trading dan mempunyai kebijakan kepatuhan untuk mencegah penyalahgunaan informasi internal. Perusahaan juga disebut telah bekerja sama dengan aparat penegak hukum setelah melakukan penyelidikan internal terhadap aktivitas yang dipersoalkan. Kerja sama tersebut menjadi penting karena perusahaan mempunyai akses terhadap catatan internal yang dapat membantu menjelaskan kapan informasi tertentu tersedia bagi karyawan. Riwayat akses sistem, komunikasi internal, serta data lain dapat membantu penyidik menyusun kronologi. Perusahaan pada saat yang sama perlu menjaga pengendalian akses terhadap informasi sensitif agar hanya dapat digunakan untuk kepentingan pekerjaan.
Kasus tersebut memperlihatkan bagaimana persoalan insider trading pada industri aset digital dapat mempunyai bentuk berbeda dibandingkan perdagangan saham tradisional. Informasi yang dipersoalkan tidak berkaitan dengan laporan keuangan atau aksi korporasi perusahaan terbuka, melainkan rencana pencatatan token pada sebuah platform perdagangan. Meski demikian, informasi semacam itu dapat mempunyai nilai ekonomi apabila pelaku pasar memperkirakan pencatatan akan meningkatkan likuiditas dan perhatian terhadap aset tertentu. Pelaku yang mengetahui informasi lebih dahulu dapat memperoleh kesempatan mengambil posisi sebelum pasar bereaksi. Kondisi itulah yang menjadi perhatian aparat dalam perkara Chai dan Xiang.
Perdagangan perpetual futures juga menambah dimensi berbeda dalam kasus tersebut. Instrumen tersebut memungkinkan trader mendapatkan eksposur terhadap kenaikan maupun penurunan harga aset tanpa harus memiliki token secara langsung. Leverage juga dapat tersedia pada jenis produk tersebut sehingga perubahan harga relatif kecil dapat menghasilkan keuntungan atau kerugian yang jauh lebih besar. Karena itu, informasi mengenai peristiwa yang berpotensi menggerakkan harga mempunyai nilai signifikan bagi trader derivatif. Jaksa menuduh kedua terdakwa memanfaatkan karakteristik tersebut setelah mendapatkan informasi internal mengenai rencana Robinhood.
Perkara ini juga menjadi perhatian karena menunjukkan tantangan pengawasan ketika perdagangan aset digital berlangsung melalui banyak platform sekaligus. Sebuah token dapat diperdagangkan pada bursa terpusat, platform terdesentralisasi, serta berbagai produk derivatif dalam waktu bersamaan. Informasi yang berasal dari satu perusahaan dapat menghasilkan efek harga pada seluruh ekosistem tersebut. Aparat penegak hukum karena itu perlu menghubungkan data dari berbagai sumber untuk mengetahui pola perdagangan. Catatan transaksi blockchain dapat memberikan informasi tertentu, tetapi identifikasi pihak di balik sebuah alamat tetap membutuhkan bukti tambahan. Kombinasi bukti digital dan catatan perusahaan menjadi penting dalam membangun konstruksi perkara.
Bagi perusahaan aset digital, kasus tersebut kembali menyoroti pentingnya pembatasan akses terhadap informasi pencatatan token. Daftar aset yang akan didukung sebuah platform biasanya diketahui oleh sejumlah karyawan sebelum diumumkan kepada masyarakat. Semakin banyak orang mempunyai akses, semakin besar pula kebutuhan terhadap sistem pemantauan dan kontrol internal. Perusahaan dapat menggunakan pencatatan akses, pembatasan komunikasi, hingga pemantauan transaksi untuk mengurangi risiko penyalahgunaan. Namun, teknologi pengawasan tetap harus berjalan bersama kebijakan kepatuhan yang jelas. Kasus yang melibatkan dua mantan insinyur Robinhood tersebut memperlihatkan bagaimana informasi teknis internal dapat mempunyai konsekuensi finansial di pasar eksternal.
Proses hukum terhadap Chai dan Xiang masih berada pada tahap awal sehingga belum terdapat putusan mengenai bersalah atau tidaknya kedua terdakwa. Pemerintah harus membuktikan unsur-unsur dakwaan dengan bukti yang dapat diterima pengadilan. Para terdakwa mempunyai kesempatan mengajukan pembelaan, mempertanyakan bukti pemerintah, dan menjelaskan transaksi yang dipersoalkan. Perbedaan antara tuduhan jaksa dan fakta yang akhirnya terbukti di persidangan karena itu perlu tetap dibedakan. Kasus tersebut kemungkinan juga akan diperhatikan industri kripto karena menyentuh penggunaan informasi internal perusahaan dalam perdagangan derivatif terdesentralisasi.
Dakwaan terhadap dua mantan insinyur Robinhood pada akhirnya menunjukkan bahwa penegakan hukum terhadap dugaan penyalahgunaan informasi rahasia mulai menjangkau struktur pasar kripto yang semakin kompleks. Hefu Chai dan Huaisong Xiang dituduh menggunakan informasi mengenai token yang akan dicatatkan Robinhood untuk mengambil posisi perpetual futures di Hyperliquid sebelum pengumuman publik. Masing-masing diduga menghasilkan keuntungan lebih dari 50.000 dolar AS melalui aktivitas tersebut. Robinhood menyatakan telah bekerja sama dengan aparat setelah melakukan investigasi internal dan menegaskan kebijakan tanpa toleransi terhadap insider trading. Sementara itu, jaksa akan berusaha membuktikan dakwaan penipuan komoditas dan wire fraud melalui proses pengadilan. Hingga terdapat putusan, kedua mantan insinyur tersebut tetap berstatus terdakwa yang tuduhannya harus dibuktikan berdasarkan proses hukum yang berlaku.





