Jakarta, 14 September 2026 – Australia mencatat pemakaman pertama menggunakan peti jenazah yang dibuat dari material berbasis jamur sebagai bagian dari upaya menghadirkan proses pemakaman yang lebih ramah lingkungan. Seorang perempuan berusia sekitar 70 tahun bernama Carolyn dimakamkan menggunakan peti biodegradable di Springwood Cemetery, kawasan Blue Mountains, New South Wales. Peti tersebut dikenal sebagai Living Cocoon dan dibuat menggunakan miselium, yaitu jaringan akar jamur, yang dikombinasikan dengan serat rami. Berbeda dengan peti kayu konvensional yang membutuhkan waktu panjang untuk terurai, material tersebut dirancang kembali menyatu dengan tanah dalam waktu relatif singkat. Keluarga Carolyn memilih konsep tersebut karena dianggap sesuai dengan kedekatannya terhadap alam selama hidup. Pemakaman itu sekaligus menjadi bagian dari berkembangnya pilihan pemakaman berkelanjutan yang mulai mendapatkan perhatian masyarakat Australia.
Carolyn menjadi orang pertama di Australia yang diketahui dimakamkan menggunakan jenis peti tersebut. Keluarga dan orang-orang terdekatnya berkumpul di Springwood Cemetery untuk memberikan penghormatan terakhir. Pemilihan peti berbahan miselium bukan sekadar karena bentuknya yang berbeda dari peti konvensional. Keluarga ingin prosesi terakhir Carolyn mencerminkan nilai yang selama ini dijalankannya, terutama kepedulian terhadap lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Suaminya, Donald, menggambarkan Carolyn sebagai seseorang yang selalu berusaha membantu orang lain. Karena itu, keluarga melihat konsep kembali memberikan sesuatu kepada alam setelah meninggal sebagai pilihan yang sesuai dengan kehidupannya.
Peti yang digunakan Carolyn dikembangkan dengan memanfaatkan karakter alami miselium yang mampu tumbuh membentuk struktur tertentu. Dalam proses pembuatannya, miselium dikombinasikan dengan serat rami yang telah didaur ulang sebelum ditempatkan dalam cetakan. Material tersebut kemudian dibiarkan tumbuh dalam ruangan dengan kondisi suhu dan kelembapan yang dikendalikan. Proses pembentukan peti membutuhkan waktu sekitar tujuh hari hingga mencapai struktur yang dibutuhkan. Tidak seperti proses pembuatan peti konvensional yang membutuhkan penebangan dan pengolahan kayu, sebagian besar struktur peti ini dibentuk melalui pertumbuhan organisme alami. Setelah proses pertumbuhan selesai, material dikeringkan sehingga dapat digunakan sebagai peti jenazah.
Salah satu karakteristik utama peti berbasis jamur tersebut adalah kemampuannya terurai dengan cepat setelah berada di dalam tanah. Dalam kondisi yang sesuai, peti diperkirakan dapat menyatu kembali dengan tanah dalam waktu sekitar 45 hari. Proses tersebut jauh lebih cepat dibandingkan sejumlah peti kayu konvensional yang dapat membutuhkan waktu puluhan tahun untuk terurai sepenuhnya. Miselium juga memiliki kemampuan alami berinteraksi dengan material organik di sekitarnya. Setelah peti kehilangan bentuknya, material tersebut menjadi bagian dari proses biologis di dalam tanah. Pendekatan tersebut membuat pemakaman dipandang bukan hanya sebagai proses menempatkan jenazah di tanah, tetapi juga mengembalikan material organik menuju siklus alam.
Living Cocoon dikembangkan oleh Bob Hendrikx melalui gagasan yang awalnya muncul dalam proyek akademik di Belanda. Konsep dasarnya adalah mempertanyakan kebutuhan manusia memproduksi berbagai benda menggunakan proses industri ketika alam mampu menumbuhkan material dengan karakter yang dibutuhkan. Miselium dipilih karena dapat tumbuh relatif cepat dan membentuk struktur ringan tetapi cukup kuat untuk fungsi tertentu. Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai peti, material tidak meninggalkan struktur permanen dalam tanah. Pendekatan tersebut kemudian dikembangkan menjadi produk yang digunakan untuk pemakaman. Teknologi serupa telah digunakan dalam ribuan prosesi di sejumlah negara sebelum akhirnya untuk pertama kalinya diterapkan di Australia.
Peti yang digunakan dalam pemakaman Carolyn memiliki bobot sekitar 30 kilogram. Meskipun sebagian besar terbentuk dari material biologis, strukturnya dirancang agar dapat digunakan dalam proses pemakaman sebagaimana peti pada umumnya. Pengembangan produk juga mempertimbangkan kebutuhan transportasi serta prosedur penanganan jenazah. Tantangan sebelumnya adalah membawa produk tersebut menuju negara yang memiliki jarak sangat jauh dari lokasi produksinya di Eropa. Perkembangan distribusi akhirnya memungkinkan peti tersebut digunakan di Australia. Pemakaman Carolyn menjadi contoh pertama sekaligus membuka kemungkinan penggunaan lebih luas di negara tersebut.
Konsep pemakaman ramah lingkungan semakin mendapat perhatian karena masyarakat mulai mempertimbangkan dampak ekologis dari proses setelah kematian. Pemakaman tradisional dapat menggunakan material kayu, logam, beton, maupun bahan sintetis yang membutuhkan sumber daya dalam proses produksinya. Sementara itu, kremasi membutuhkan energi dan menghasilkan emisi karbon. Kondisi tersebut mendorong munculnya berbagai alternatif yang berusaha mengurangi penggunaan energi maupun material yang sulit terurai. Pemakaman alami menjadi salah satu pilihan dengan menggunakan material sesedikit mungkin dan membiarkan proses dekomposisi berlangsung secara alami. Peti berbasis miselium masuk dalam perkembangan tersebut dengan menawarkan material yang dapat kembali menyatu dengan lingkungan.
Australia sendiri mulai mengalami peningkatan minat terhadap konsep pemakaman berkelanjutan. Sejumlah keluarga tidak lagi hanya mempertimbangkan bentuk upacara, tetapi juga dampak lingkungan dari pilihan pemakaman yang digunakan. Perubahan tersebut berjalan bersama meningkatnya perhatian terhadap keberlanjutan dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Pilihan seperti pemakaman alami, penggunaan peti berbahan sederhana, hingga metode pengolahan jenazah dengan dampak lingkungan lebih rendah mulai diperbincangkan. Bagi sebagian orang, cara seseorang dimakamkan juga dianggap dapat mencerminkan nilai yang dijalankan selama hidup. Pendekatan tersebut membuat industri pemakaman mulai menawarkan pilihan yang lebih beragam dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Miselium sendiri telah lama menjadi perhatian dalam pengembangan material berkelanjutan di luar industri pemakaman. Struktur jaringan jamur tersebut dapat dikembangkan menjadi material untuk kemasan, insulasi, furnitur, dan berbagai produk lainnya. Keunggulannya terletak pada kemampuan tumbuh menggunakan bahan organik dengan kebutuhan energi yang relatif rendah. Setelah tidak digunakan, material berbasis miselium dapat terurai secara biologis sehingga mengurangi persoalan limbah jangka panjang. Meski demikian, setiap penggunaan membutuhkan pengembangan berbeda agar kekuatan dan ketahanannya sesuai dengan fungsi produk. Peti jenazah menjadi salah satu contoh bagaimana material biologis dapat menggantikan sebagian fungsi material konvensional.
Pemakaman Carolyn menggunakan peti berbahan jamur akhirnya menjadi tonggak baru bagi perkembangan pemakaman ramah lingkungan di Australia. Pilihan keluarga tidak hanya menghadirkan cara berbeda dalam memberikan penghormatan terakhir, tetapi juga memperlihatkan bagaimana teknologi material biologis mulai memasuki bagian kehidupan yang sebelumnya sangat bergantung pada produk konvensional. Peti Living Cocoon dapat tumbuh dalam sekitar tujuh hari dan diperkirakan menyatu kembali dengan tanah sekitar 45 hari setelah dikuburkan dalam kondisi yang sesuai. Bagi keluarga Carolyn, konsep tersebut memiliki makna personal karena menggambarkan keinginannya untuk tetap memberikan sesuatu kepada lingkungan. Peristiwa tersebut juga dapat membuka ruang bagi masyarakat Australia untuk mempertimbangkan lebih banyak alternatif pemakaman berkelanjutan. Perkembangan teknologi miselium menunjukkan bahwa pendekatan ramah lingkungan kini dapat diterapkan bahkan pada proses terakhir dalam perjalanan kehidupan manusia.








