Denpasar, 5 November 2026 – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menyiapkan rencana pembangunan transportasi trem yang menghubungkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dengan kawasan Canggu, Bali. Proyek tersebut dirancang dalam dua tahap pembangunan dengan target penyelesaian sekitar dua tahun. Kehadiran trem diharapkan menjadi alternatif transportasi massal untuk mengurangi kemacetan di sejumlah kawasan wisata utama Pulau Dewata. Rencana ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat konektivitas antara bandara, pusat pariwisata, dan kawasan permukiman.
Pembangunan jalur trem direncanakan untuk menjawab kebutuhan transportasi yang terus meningkat seiring tingginya aktivitas wisatawan di Bali. Kawasan Bandara Ngurah Rai, Kuta, Seminyak, hingga Canggu dikenal sebagai wilayah dengan mobilitas kendaraan yang padat. Kemacetan sering terjadi pada jam sibuk, terutama ketika arus wisatawan dan aktivitas masyarakat berlangsung secara bersamaan. Karena itu, pengembangan angkutan berbasis rel dinilai dapat menjadi salah satu solusi jangka panjang.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menjelaskan bahwa proyek tersebut dikembangkan bersama Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten Badung. Kerja sama ditandai dengan penandatanganan kesepakatan pada 1 September 2026. Jalur trem direncanakan memiliki panjang sekitar 13,1 kilometer dan menjadi bagian dari inisiatif Bali Low Emission Zone Initiative. Pengembangannya akan mempertimbangkan kebutuhan transportasi sekaligus karakter kawasan pariwisata Bali.
Pada fase pertama, pembangunan difokuskan pada jalur Bandara Ngurah Rai menuju Legian sepanjang 6,6 kilometer. Berdasarkan rencana awal, jalur tersebut ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada kuartal IV 2028. Sementara itu, fase kedua menghubungkan Legian, Seminyak, hingga Canggu sepanjang 6,5 kilometer. Jadwal penyelesaian keseluruhan proyek masih bergantung pada hasil kajian teknis dan penyesuaian rencana pembangunan.
Trem yang dikembangkan direncanakan menggunakan teknologi listrik berbasis baterai sehingga tidak memerlukan kabel listrik di sepanjang jalur. Sistem tersebut dipilih untuk mengurangi kebisingan dan menjaga tampilan kawasan wisata. Rancangan awal juga mencakup penggunaan jalur di permukaan tanah serta jalur layang pada titik tertentu, termasuk kawasan bandara. Penentuan trase akhir akan mempertimbangkan kondisi jalan, kebutuhan lahan, dan integrasi dengan transportasi lainnya.
Gubernur Bali Wayan Koster menekankan bahwa pembangunan transportasi massal harus tetap memperhatikan budaya dan kehidupan masyarakat setempat. Infrastruktur baru diharapkan tidak mengganggu aktivitas pariwisata, permukiman, maupun lingkungan sekitar. Pemerintah daerah juga berencana melibatkan desa adat, pelaku usaha, dan masyarakat dalam proses pembahasan proyek. Langkah tersebut diperlukan agar pembangunan mendapatkan dukungan sekaligus meminimalkan dampak terhadap aktivitas warga.
Dalam rencana pengembangan, layanan trem diproyeksikan memiliki waktu tempuh sekitar 30 menit dari bandara menuju Canggu dengan interval keberangkatan 10 menit. Kapasitas angkutnya diperkirakan dapat mencapai 60.000 penumpang setiap hari apabila seluruh sistem telah beroperasi sesuai rancangan. Meski demikian, angka tersebut masih berupa proyeksi yang membutuhkan pengujian lebih lanjut. KAI bersama pemerintah daerah akan melanjutkan studi kelayakan, penyusunan desain, dan persiapan teknis sebelum pembangunan fisik dilaksanakan.
Kehadiran trem Bandara Ngurah Rai-Canggu diharapkan menjadi solusi transportasi jangka panjang bagi masyarakat dan wisatawan di Bali. Pemerintah menargetkan pembangunan tahap awal dapat dimulai pada 2027, dengan layanan pertama diupayakan beroperasi pada 2028. Sementara itu, target penyelesaian seluruh koridor masih memerlukan penyelarasan karena terdapat perbedaan jadwal dalam rencana awal pemerintah daerah. Keberhasilan proyek ini nantinya akan bergantung pada kesiapan pendanaan, infrastruktur, serta kemampuan mengintegrasikan trem dengan jaringan transportasi yang sudah tersedia.





