Makassar, 9 September 2026 – Talenta muda Sulawesi Selatan mencatatkan prestasi dalam IndonesiaNEXT 2026 setelah Andi Alya Inar Putri, mahasiswi Universitas Hasanuddin (Unhas), meraih predikat Best Hustler pada program pengembangan talenta digital tersebut. Selain Alya, Nur Hisma dari Universitas Negeri Makassar (UNM) juga berhasil menembus jajaran Top 24 Talenta Digital Terbaik IndonesiaNEXT 2026. Pencapaian keduanya menjadi bagian dari rangkaian IndonesiaNEXT tahun ke-10 yang berfokus pada peningkatan kompetensi mahasiswa di bidang teknologi dan kecerdasan artifisial. Program tahun ini mengusung tema “AI Driven Digital Talents” dengan memberikan pengalaman pembelajaran yang menggabungkan teknologi, pemahaman industri, dan kolaborasi lintas disiplin. Prestasi tersebut sekaligus memperlihatkan kemampuan mahasiswa Sulawesi Selatan untuk bersaing dengan talenta muda dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Andi Alya merupakan mahasiswi Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Hasanuddin yang berhasil menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam kategori Hustler. Kategori tersebut menitikberatkan penilaian pada kemampuan peserta dalam mengelola produk digital, menyusun strategi bisnis, serta memastikan keberlanjutan solusi yang dikembangkan bersama tim. Alya bersaing dengan peserta dari berbagai latar belakang perguruan tinggi yang sebelumnya telah melewati serangkaian tahapan seleksi. Keberhasilannya menjadi Best Hustler menunjukkan bahwa kompetensi digital tidak hanya dapat dikembangkan mahasiswa yang berasal dari bidang teknologi informasi. Kemampuan menggabungkan pengetahuan akademik, kepemimpinan, pemahaman bisnis, dan teknologi menjadi salah satu unsur penting dalam kompetisi tersebut.
IndonesiaNEXT 2026 telah berlangsung sejak April dengan jumlah peserta awal mencapai 8.916 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 1.000 peserta mengikuti tahap onboarding, kemudian 300 peserta memperoleh kesempatan mengikuti sertifikasi internasional dan pengayaan kompetensi. Persaingan kembali mengerucut menjadi 99 mahasiswa yang mengikuti digital hackathon sebelum akhirnya terpilih 24 talenta digital terbaik. Mereka kemudian dibagi ke dalam delapan tim yang masing-masing memiliki tiga peran utama, yakni Hacker, Hipster, dan Hustler. Proses seleksi berjenjang tersebut dirancang agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkan kemampuan digital untuk menyelesaikan persoalan yang memiliki relevansi dengan kebutuhan masyarakat maupun industri.
Dalam pembagian peran tersebut, Hacker bertanggung jawab terhadap pengembangan teknologi, sementara Hipster berfokus pada desain dan pengalaman pengguna. Adapun Hustler menjalankan fungsi pengelolaan produk, strategi bisnis, dan penyusunan model keberlanjutan sehingga solusi yang dikembangkan tidak berhenti pada tahap gagasan. Kolaborasi ketiga peran tersebut menjadi bagian penting karena pengembangan produk digital membutuhkan keseimbangan antara kemampuan teknis, pengalaman pengguna, dan kelayakan bisnis. Peserta juga dituntut mampu berkomunikasi dan bekerja dengan anggota tim yang mempunyai latar belakang kompetensi berbeda. Pendekatan itu menjadi salah satu cara untuk memberikan gambaran mengenai pola kerja yang akan mereka hadapi ketika memasuki industri digital.
Sebelum memasuki IndonesiaNEXT Summit 2026, para peserta mengikuti offline bootcamp pada 1 hingga 3 September. Materi yang diberikan mencakup ekosistem AI, proses pengembangan produk, kolaborasi lintas peran, etika profesional, perlindungan data, hingga teknik presentasi. Peserta juga memperoleh kesempatan melihat lingkungan kerja industri teknologi sehingga dapat memahami bagaimana sebuah gagasan dikembangkan menjadi produk yang dapat diterapkan. Tahapan tersebut menjadi persiapan sebelum delapan tim terbaik mempresentasikan solusi mereka pada IndonesiaNEXT Summit di Jakarta pada 4 September. Penilaian terhadap setiap solusi mencakup pemahaman masalah, kebutuhan pengguna, kualitas purwarupa, kelayakan penerapan, serta kemungkinan keberlanjutan produk setelah dikembangkan.
Persaingan kemudian menghasilkan sembilan finalis individu yang terdiri atas tiga Hacker, tiga Hipster, dan tiga Hustler. Para finalis tidak hanya diminta menjelaskan kemampuan teknis atau produk yang mereka kerjakan, tetapi juga mempresentasikan kontribusi, kepemimpinan, rekam dampak, dan pandangan mengenai masa depan teknologi Indonesia. Berbagai solusi yang muncul selama kompetisi mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti kesehatan mental, peningkatan kompetensi tenaga penjualan, pengelolaan limbah, pengembangan kepercayaan diri melalui AI coaching, serta optimalisasi sektor pangan dan perikanan. Variasi persoalan tersebut menunjukkan pemanfaatan AI dalam kompetisi diarahkan untuk menjawab kebutuhan konkret dan bukan sekadar mendemonstrasikan kemampuan teknologi. Peserta ditantang menemukan keseimbangan antara inovasi, kebutuhan pengguna, dan kemungkinan solusi diterapkan secara nyata.
Selain penghargaan individu yang diraih Alya, tim Scenaria ditetapkan sebagai Best Team IndonesiaNEXT 2026. Tim tersebut beranggotakan Atha Azzahra Khairun Nisa dari Universitas Brawijaya sebagai Hipster, Wahyu Oktiansyah dari Telkom University sebagai Hustler, dan Putera Nami Shiddieqy dari Universitas Sumatera Utara sebagai Hacker. Mereka mengembangkan platform berbasis AI untuk membantu tenaga penjualan berlatih menghadapi berbagai skenario pelanggan secara lebih interaktif. Solusi tersebut dinilai unggul karena mampu menjawab kebutuhan industri sekaligus memiliki potensi penerapan secara nyata. Penilaian itu memperlihatkan bahwa kemampuan mengidentifikasi masalah dan membangun solusi yang dapat digunakan menjadi bagian penting dari kompetensi talenta digital yang dikembangkan melalui IndonesiaNEXT.
Bagi Alya, pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa dari Sulawesi Selatan memiliki kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuan pada tingkat nasional. Pengalaman selama IndonesiaNEXT memberinya pembelajaran mengenai bisnis digital dan AI sekaligus memperkuat kemampuan dalam kolaborasi, kepemimpinan, serta mengubah sebuah ide menjadi solusi. Alya berharap pencapaiannya dapat mendorong mahasiswa lain, khususnya di Sulawesi Selatan dan Unhas, untuk berani mengambil kesempatan serta meningkatkan kompetensi digital. Bersama para pemenang lainnya, Alya juga dijadwalkan mengikuti program International Benchmark ke The Singapore Week of Innovation and Technology (SWITCH) pada 27–29 Oktober 2026. Kesempatan tersebut menjadi kelanjutan proses pembelajaran bagi para pemenang untuk memperoleh perspektif lebih luas mengenai perkembangan inovasi dan industri teknologi.
IndonesiaNEXT sendiri telah memasuki satu dekade penyelenggaraan dan sejauh ini menjangkau lebih dari 96.000 mahasiswa dari 705 perguruan tinggi yang tersebar di 38 provinsi. Lebih dari 9.000 peserta telah memperoleh sertifikasi berstandar industri, sementara program tersebut telah menghasilkan sekitar 280 alumni terbaik. Capaian Alya dan Nur Hisma menambah representasi talenta dari Sulawesi Selatan dalam ekosistem tersebut sekaligus menunjukkan semakin luasnya keterlibatan mahasiswa dari berbagai daerah dalam pengembangan teknologi digital. Penguatan keterampilan AI, pemahaman industri, kepemimpinan dan kemampuan berkolaborasi menjadi semakin relevan ketika kebutuhan tenaga kerja digital terus berkembang. Prestasi dua mahasiswa Sulawesi Selatan itu diharapkan turut mendorong lebih banyak generasi muda di kawasan Indonesia Timur untuk meningkatkan kemampuan dan menciptakan solusi teknologi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.






